Alami Masalah Jelang MotoGP 2020, Valentino Rossi dan Vinales

Alami Masalah Jelang MotoGP 2020, Valentino Rossi dan Vinales

Sunday, June 28, 2020, 7:14 AM
Rossi dan Vinales
Ngeliput.com - Dua pembalap Monster Energy Yamaha, Valentino Rossi dan Maverick Vinales, mengalami kerugian jelang MotoGP 2020 bergulir.

Dorna Sports telah merilis jadwal terbaru penyelenggaraan MotoGP 2020.

Kompetisi balapan tersebut akan dimulai di Sirkuit Jerez, Spanyol, pada 19 Juli mendatang.

Semuanya menyambut dengan suka cita tentang kejelasan dimulainya MotoGP 2020, tetapi tidak untuk Yamaha.

Yamaha khawatir dengan pembatasan perjalanan yang mengganggu stafnya untuk bepergian ke Eropa.

Penyebabnya, sebagian kru di tim tersebut berasal dari negara non-Eropa, sehingga ada masalah diplomatik jika pergi ke wilayah-wilayah Eropa.

Menurut protokol keamanan yang dibuat oleh Dorna, staf di dalam paddock harus dikurangi menjadi 45 orang.

Padahal biasanya di dalam paddock tempat Maverick Vinales dan Valentino Rossi berjumlah 55 orang.

Masalah diplomatik ini diperhatikan betul oleh sebagian tim di luar Eropa.

Mengingat sebagian besar gelaran MotoGP akan diselenggarakan di Eropa seperti Spanyol, Ceko, Austria, dan Prancis.

"Kekhawatiran terbesar kami adalah kebebasan bepergian untuk kelompok Jepang," ucap Lin Jarvis seperti dikutip BolaSport.com dari Corsedimoto.

"Dalam kasus kami ada juga orang Australia. Saat ini mereka tidak dapat terbang ke Eropa, bahkan dengan hasil tes negatif COVID-19," ucap Managing Director Yamaha ini menambahkan.

Izin khusus dari pemerintah tuan rumah MotoGP 2020 sangat diperlukan untuk memungkinkan mekanik Jepang dan Australia mencapai Eropa.

Sebelum semua staf berkumpul, Lin Jarvis tidak merasa nyaman.

"Kami menegaskan bahwa kami hanya dapat mengambil bagian dari balapan MotoGP jika solusinya ditemukan," ujar Jarvis.

"Para staf asal Jepang juga harus dapat berpartisipasi dalam balapan. JIka mereka tidak bisa datang, kami akan kesulitan balapan."

Jika orang Jepang tidak bisa datang, Honda dan Suzuki juga akan terkena dampaknya."

"Ini jelas menciptakan situasi pabrikan Eropa akan menikmati keuntungan yang tidak adil karena mereka dapat bersaing dengan full power," katanya melanjutkan.(*) sumber (serabinews.com)

TerPopuler